Mutiara yang Dirindukan

Mutiara yang Dirindukan/unsplash Leo Rivas

Perjalanan orangtua dalam mendampingi perkembangan anak merupakan suatu kenikmatan. Terlepas pahit dan manisnya jalan yang dilalui, namun harapan indah nan mengelokkan, akan terus menghiasi perjalanan mimpi yang cukup panjang. Biarlah, tatapan mendalam sorot matanya, usapan lembut kedua tangannya, tetesan keringat dari tubuhnya, dan untaian doa dari bibirnya, menjadi saksi dari suatu yang didambakan.

Setiap anak cerdas. Salah, jika mengatakan ada anak yang bodoh. Mereka memiliki kecerdasan pada bidangnya masing-masing. Banyak orang yang hanya mengukur kecerdasan anak dari sisi kognitifnya saja. Jika anak lambat dalam membaca dan menghitung, ia dianggap bodoh. Padahal, kecerdasan bisa pada unsur lain. Memiliki kecerdasan yang sifatnya kognitif, tak melulu lebih berhasil dibandingkan kecerdasan yang lainnya. Ia hanya bonus saja untuk kemudian bisa dikembangkan. Toh banyak orang-orang pintar yang kalah oleh orang-orang yang rajin, walau IQ nya lebih rendah. Bayangkan jika anak kita pintar, lalu dibuat rajin oleh orangtua dan gurunya. Maka wajar, jika orangtua menaruh sebuah harapan besar dengan masa depan anaknya.

Setiap anak sudah jelas pula sebagai para juara. Ia telah mengalahkan jutaan saingannya untuk masuk pada rahim sang ibu. Pun ia mampu tumbuh kembang hingga terlahir ke dunia ini dengan selamat. Jadi sekali lagi, tidak boleh ada kata anak-anak yang bodoh atau yang kalah. Hal terpenting ialah, bagaimana memerankan sistem untuk membuat setiap anak makin berkembang sesuai harapan dan potensinya masing-masing. Disini, peran orangtua, guru dan masyarakat yang akan paling menentukan lahirnya mutiara-mutiara yang dirindukan.

Howard Gardner yang merupakan seorang pakar pendidikan dari Universitas Harvard mengungkapkan mengatakan, setidaknya terdapat delapan kecerdasan anak. Kecerdasan tersebut pastinya dimiliki oleh setiap anak dan dapat dikembangkan oleh orangtua, guru dan masyarakatnya. Kedelapan kecerdasan itu ialah sebagai berikut. Pertama kecerdasan linguistik (word smart), dimana anak pandai dalam hal berbahasa baik itu lisan maupun tulisan. Hal ini dapat dilihat ketika anak suka membaca, cepat mengeja, suka menulis berbicara, dan mendengarkan cerita. Kedua  kecedasan logika (number smart) yang dapat dilihat ketika anak menyukai angka-angka, berbau sains dan berhubungan dengan logika. Ketiga kecerdasan interpersonal (self smart) dimana anak lebih suka bermain sendiri namun ia bisa mengatur emosi. Keempat kecerdasan interpersonal (people smart) dimana anak suka bergaul dan memiliki jiwa empati yang tinggi. Kelima kecerdasan musikal (music smart) dimana anak suka bernyanyi, mendengar music, mengingat lagu dan lain-lain. Keenam kecerdasan spasial (Picture smart) dimana anak suka menggambar, berimajinasi, mencurat coret. Ketujuh kecerdasan kinetik (body smart) dimana anak aktif bergerak berolahraga, menari, menyentuh, dan Kedelapan kecerdasan naturalis (nature smart) dimana anak lebih senang bermain di alam, memelihara binatang dan lain-lain.

Menilik pendapat di atas sudah dipastikan, orangtua dan guru yang lebih mengetahui dan dituntut untuk mengembangkan kecerdasan setiap anak. Bagi orangtua mungkin lebih mengetahuinya karena mereka berinteraksi lebih lama dengan anak, walau secara didakdik metodik, belum sehebat para guru. Namun bagi para guru, mereka dapat mengetahuinya pula melalui observasi dan test kecerdasan anak. Dengan demikian, tak ada alasan bagi orangtua dan guru untuk menggali dan mengembangkan potensi anak secara tepat.

Adalah kerugian, manakala orangtua dan guru yang sudah tahu dengan kecerdasan anak, namun tidak terpanggil dan berusaha untuk mengembangkannya. Perjalanan hidup sangatlah singkat. Pase sekolah formal dapat di ukur dengan mudah. Tingkat TK hanya 2 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, S1 4 tahun dan seterusnya. Kurang tepat jika kita tersibukkan untuk menutupi kekurangan anak. Sebaiknya, fokuskan pada pengembangan kelebihan yang dimiiliki. Bukan bermaksud membiarkan kekurangan, tetapi melesakkan kelebihan lebih tepat adanya. Toh pada akhirnya, setiap anak akan menguasai bidang tertentu, yang pastinya sesuai dengan kecerdasaan bawaan yang terus diasah dan dikembangkan.

Wallahu a’lam

Penulis : Iim Ibrohim (Penulis & Pemerhati Pendidikan, Ketua Yayasan Mutiara Embun Pagi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *