Cara Cerdas Berkomunikasi dengan Anak

cara cerdas berkomunikasi

Menjadi orangtua adalah tugas besar yang paling berat. Perlu cara cerdas berkomunikasi dengan mereka agar anak bisa tetap patuh dan taat kepada kita selaku orangtua. Mendapat titipan dari Allah SWT untuk mendidik dan membesarkannya tidak semudah menceritakan dan mewacanakannya. Terlebih di era digital dewasa ini. Tugas orangtua semakin besar, tantangnnya pun semakin dahsyat. Orangtua dituntut untuk lebih cerdas dari anaknya, lebih hebat dan mampu mengimbangi pergerakan dan perkembangan zaman. Jika tidak, maka akan kalah saing oleh smartphone dan media lain yang tentunya memiliki pengaruh yang jauh lebih besar kepada anak-anak daripada pengaruh nasihat dan perintah orangtuanya. Mendidik anak adalah kewajiban orangtua, maka didiklah mereka dengan penuh kesungguhan sebelum mereka dididik oleh zaman.

Sebuah firman Allah dalam Surat At-Tahrim ayat 6, yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”

Bagi orang-orang yang beriman, tentunya kalimat Firman Allah itu dapat membuat bulu kuduk berdiri dan otomatis bergidik. Orangtua yang betul-betul memiliki kesadaran akan pentingnya kewajiban mendidik anak dan menyelamatkan keluarga dari siksa api neraka akan sangat ketakutan ketika keturunannya tersesat jalan.

Karena itu dalam era yang serba cepat ini, orangtua harus pandai-pandai menjalin komunikasi dengan anak. Mencari cara yang tepat bagaimana sebuah nasihat sampai dengan selamat, bukan hanya pada telinga, tetapi lebih kepada hati sang buah hati. Betapa indahnya ketika anak-anak kita mendengarkan dan mentaati apa yang kita katakana bukan?

Namun faktanya, kekinian, banyak anak-anak yang abai terhadap perkataan orangtua. Nasihat seolah hanya angin lalu saja, terdengar di telinga kanan, kemudian lepas begitu saja dari telinga sebelah kiri. Konten-konten youtube, game online, dan hal-hal lain di smartphonenya jauh lebih menarik daripada mengindahkan perkataan orangtuanya. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan para orangtua untuk mengatasi ini, sebelum semuanya terlampau jauh dan memburuk?

Ada beberapa tips komunikasi cerdas dengan anak yang bisa dilakukan. Di antaranya adalah:

1. Gali Informasi dari aktivitas yang dilakukan anak
Menggali informasi dari aktivitas anak-anak akan sangat membantu orangtua menentukan tindakan dan perlakukan kepada anaknya, terutama ketika anak-anak melakuakn kesalahan. Seperti halnya orang dewasa, setiap anak pun tidak ingin disalahkan. Maka dari itu, ketika anak berbuat sebuah tindakan yang keliru, sebaiknya tidak langsung menyalahkan. Telusuri dulu penyebab dan alaasan mengapa anakmelakukan hal tersebut, sebagai dasar pertibangan tindakan yang akan diambil.

2. Jangan segan untuk masuk dan menyelami dunia anak
Anak-anak bukanlah miniatur orang dewasa. Selain memiliki bentuk dan kekuatan fisik yang berbeda, pola pikir dan ketahanan mentalnya pun tentu jauh berbeda. Teruslah belajar untuk menyelami dunia anak, agar lebih banyak memahami mereka. Berhentilah menuntut anak-anak untuk memahami keinginan orangtua, kemudian mulailah bersemangat untuk menjadi sosok paling menyenangkan dan memahami dunia mereka dan apa yang mereka inginkan.

3. Pilih kalimat terbaik ketika berbicara dengan anak
Kalimat yang baik selalu enak ditangkap indra pendengaran. Seseorang yang diajak bicara dengan bahasa yang lembut dan panggilan yang nyaman akan mengahdirkan perasaan bahagia dalam hati. Tidak terkecuali anak-anak. Ketika berdialog dengan anak, pilihlah kata-kata yang menyenangkan mereka. Jika mereka sudah senang dengan apa yang diucapkan, tidak menutup kemungkinan mereka akan mudah memahami maksud nasihat atau arahan yang diberikan oleh orangtuanya.

4. Tidak membandingkan anak
Siapa yang suka dibandingkan dengan orang lain? Anak mana yang senang mendengar orangtuanya mengelu-elukan anak lain di hadapannya? Tentu tidak akan ada yang senang dengan hal itu. Terimalah setiap pribadi anak ecara utuh. Sadari, bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan potensi dan pribadi yang berbeda.

5. Jadilah pendengar yang baik bagi anak
Anak-anak selalu ingin didengarkandan mendapatkan perlindungan. Oragtua adalah tempat pulang dan tempat berlindung yang paling dirindukan setelah mereka bermain bersama temannya atau ketika anak-anak merasa berada dalam ancaman bahaya. Jadilah pendengar yang terbaik untuk setiap keluh kesahnya.

6. Hindari marah yang tidak berkualitas, bersabar dan cari waktu yang tepat
Tidak semua kesalahan yang dilakukan anak harus dihadapi dengan kemarahan. Namun sesekali kita pun harus punya ketegasan dan aturan yang wajin ditaati anak-anak. Sebaiknya Anda belajar menahan marah, jangan sampai kemarahan Anda tidak melahirkan kesadaran dan pembelajaran bagi anak. Terus melatih kesabaran dan memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan sebuah kemarahan adalah hal yang tepat dilakukan oleh orangtua agar marahnya lebih berwibawa.

7. Memeluk anak setelah memarahi
Memarahi anak akan melahirkan efek jera. Namun sisi lain, hal itu akan sangat menyakitinya. Jangan segan memeluk mereka setelah memarahinya. Tunjukkan kepada mereka bahwa marah orangtua adalah marah karena Anda sangat menyayanginya.

Jadilah orangtua yang paling memahami anak-anaknyayang mampu menguasai cara cerdas berkomunikasi dengan anak. Lakukan dengan hati ketika berinteraksi dengan mereka. Karena bukti komunikasi yang cerdas adalah, ketika muncul perubahan prilaku kea rah yang positif, baik pada anak maupun pada orangtunay setelah terjadi komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anaknya.
Semoga bermanfaat.

Penulis: Nurdin Qusyaeri, M.Si (Dosen Komunikasi Penyiaran Islam STAIPI Bandung dan pemerhati pendidikan Islam, Pengurus Yayasan Mutiara Embun Pagi)
Editor: Diantika IE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *