Sawah Alihkan Perhatian Anak dari Gadget.

sawah alihkan anak dari gatget

Dewasa ini anak-anak lebih sibuk dengan gadget, maka dari itu kita harus berusaha untuk alihkan perhatian anak dari gadget.  Anak-anak kini tidak lagi banyak bermain dengan teman-temannya. Aktivitas fisik mereka pun terbatas. Jika zaman dahulu masa kecil adalah masa paling menyenangkan, dimana anak-anak bisa bermain dengan bebas di sungai, di lapangan, bermain petak umpet dan lari-larian, sekarang mereka lebih asik dengan ponsel pintarnya mojok di kamar asik dengan gamenya.

Banyak anak yang abai pada perintah orangtua dan lebih mementingkan mainannya. Ketika diminta untuk salat, ingatkan untuk makan, mereka menjawab dengan mudahnya, “nanti dulu.” Sangat mengerikan, ketika ketaatan itu mulai terhapus. Eksistensi orang tua kalah dengan gadget dan smartphone.

Lalu ini salah siapa? Apakah seluruhnya kesalahan anak?  Apakah anak-anak yang terlalu susah dikendalikan?

Tentu saja tidak. Kebiasaan yang muncul pada anak dibentuk oleh lingkungan diciptakan oleh orangtua dan para orang dewasa baik itu di rumahnya masing-masing maupun di tempat lain tempat anak-anak itu bermain.

Wajar jika anak-anak tidak lagi mau main di lapangan. Karena di rumah sudah terpasang wifi. Karena anak-anak difasilitasi dengan ponsel pintar. Bukan lagi dibekali kelereng, mobil-mobilan, atau pistol mainan. Anak-anak bermain dengan temannya pun telah berganti cara. Jika dulu mereka janjian di perempatan jalan, untuk sama-sama pergi ke lapangan, maka sekarang anak cukup chatting di media sosial, janjian untuk mabar, alias main game bareng. Alhasil anak-anak hanya duduk diam, berteriak, tertawa, dan mengeluarkan kata-kata hujatan ketika mereka kalah dari permainan. Sungguh dunia anak telah hilang.

Mengalihkan anak ke sawah bisa mengalihkan anak dari gatget.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Kembalilah kepada kodrat orangtua yang memiliki kewajiban besar untuk mendidik anak-anaknya. Saatnya kita bersaing dengan teknologi yang semakin pesat.

Ada beberapa cara, yang bisa dilakukan oleh para orangtua, untuk mengurangi akibat buruk dari kemajuan teknologi. Mari kita sedikit bercerita tentang tips untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget.

Jika anda orang pedesaan, ajaklah anak bermain ke sawah. Jika bukan, maka pergilah ke suatu tempat wisata edukasi, yang menyediakan tempat bermain, berupa hamparan sawah. Anda bisa mendatangi Kabupaten Ciamis, Tasik, Garut,atau bahkan kabupaten Bandung yang masih memiliki hamparan sawah yang luas.

Mungkin sebagian orang berpikir, bahwa main ke sawah merupakan hal yang menyita waktu, kotor, dan mungkin seolah hanya buang-buang energi. Orang tua harus menyengaja turun ke tempat basah hanya untuk mengantar anaknya.

Namun justru efek yang akan dihasilkan ketika anak-anak di bawah turun ke sawah sangat banyak. Berikut adalah akibat akibat baik yang akan dirasakan setelah anak-anak dibawa turun ke sawah.

1. Refresh otak

Warna hamparan sawah yang hijau atau mungkin mulai menguning, akan memberikan efek tenang. Otak anak yang sudah dikuasai oleh permainan gadget setidaknya akan teralihkan. Bukan hanya otak anak yang ter-refresh, kita pun sebagai orang dewasa akan merasakan ketenangan tersendiri ketika datang ke sawah dan melihat hamparan padi yang berwarna hijau atau mungkin mulai menguning.

2. Kenalkan hal-hal positif di sawah

Di sawah, kita bisa banyak mengenalkan hal-hal positif. Misalkan saja, mengenalkan tentang padi dan asal muasal makanan pokoknya, mengenalkan profesi petani yang sangat berjasa untuk dirinya dan seluruh orang di dunia ini.

Jangan lupa, sadarkan anak bahwa orang Indonesia mayoritas adalah petani. Buat mereka sadar dan bangga akan potensi itu. Luasnya lahan pertanian dan pesawahan di Indonesia merupakan peluang untuk anak-anak Indonesia menjadi petani yang hebat dan mampu diandalkan.

3. anak-anak bersyukur

Hamparan sawah yang luas dan indah bisa dinikmati oleh pandangan mata, merupakan anugerah yang tiada tara dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah memberikan rezeki, memberikan segala keindahan untuk dinikmati manusia, dengan cara Cuma-cuma. Katakan pada mereka bahwa mereka harus pandai pandai bersyukur dan menjaga pemberiannya.

4. Ajarkan motorik halus dan kasar.

Konon anak yang pandai berjalan di pematang sawah otak kiri dan kanannya terlatih dengan sempurna. Jadi jika anda ingin mengajarkan anak tentang kedewasaan, kematangan dalam mengambil keputusan di masa depan, maka ajarkan anak untuk berjalan cepat di pematang sawah. Itu akan melatih keseimbangan otak kiri dan kanannya. Selain itu anda bisa mengajak mereka bermain lumpur atau sekedar mencari belalang di sawah. Karena itu tunggu apa lagi alihkan perhatian anak dari gatget dan mulailah ajak mereka berjalan di pematang sawah.

5. Di sawah bisa belajar banyak hal.

Jika anda ingin mengenalkan ekosistem, mengajarkan jenis-jenis serangga, atau apa saja yang berhubungan dengan tumbuhan mungkin sawah adalah alternatif terbaik. Di sawah Anda akan menemukan berbagai macam serangga, tumbuhan, rumput, ikan-ikan kecil, dan lain sebagainya. maka di sanalah anda telah mengajarkan ilmu biologi dan lingkungan kepada.

Tentunya masih banyak lagi manfaat dari bermain ke sawah yang bisa kita ambil. Saya rasa Anda lebih tahu tentang hal itu. namun setidaknya tulisan saya ini mudah-mudahan bisa menyadarkan bahwa menjadi orangtua yang baik, dan mengendalikan ketergantungan anak terhadap gadget, bisa dijadikan referensi untuk anda sebagai orang tua.

Mari bersemangat untuk memperbaiki sesuatu yang harus diperbaiki pada anak-anak. Kembalikan mereka ke dunianya dengan bantuan kita sebagai orang tuanya. Kita adalah orang yang paling berkewajiban untuk menyelamatkan mereka.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Diantika IE, M.Pd. (Ketua Komunitas Penulis Kreatif Indonesia, Ghost Writer, Pemerhati Pendidikan, Kepala Sekolah Mutiara Embun Pagi).

Editor: Gusep Hilman, S.H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *