Menjadi Guru Sejatinya Mendidik Diri Sendiri

menjadi didik sejatinya mendidik diri sendiri

Menjadi guru bukan hanya bertugas mengajar dan menyampaikan materi kepada murid di kelas. Namun menjadi guru sejatinya mendidik diri sendiri. Membenahi sikap dan perilaku supaya menjadi pribadi yang lebih bisa “digugu” dan “ditiru” oleh murid dan siapa saja yang mengenalnya di luar lingkungan sekolah.

Menjadi guru bukan tentang bermain peran dan bersandiwara menjadi sosok tertentu supaya disegani. Melainkan soal mengambil peran penting dalam kehidupan dan menjadi sosok sungguhan yang sikap dan perilakunya dapat dijadikan teladan .

Ketika sudah tidak ada lagi orang yang peduli untuk mengajarkan disiplin, sopan santun, tata krama, kepatuhan kepada agama, tidak terkecuali kepatuhan kepada aturan hukum yang berlaku di dalam suatu negara, maka gurulah yang harus tetap melakukannya. Bisa jadi ini adalah salah satu alasan mengapa saat tempat wisata dan hiburan tetap dibuka pada masa pandemi covid, sekolah malah menjadi satu-satunya lembaga yang tidak diperkenankan beroprasi. Di sanalah seharusnya kita sadar, bahwa Pendidikan dan peran guru itu sangatlah penting. Jika lembaga Pendidikan sudah tidak lagi ikut mendidik kedisiplinan masyarakat maka siapa lagi, lembaga mana lagi yang akan melaukannya?

Guru adalah pilar yang menentukan kemajuan bangsa, penentu nasib generasi berikutnya. Sementara murid adalah peniru ulung, terutama mereka yang masih berada dalam usia dini. Perilaku guru, berpengaruh positif kepada peserta didik. Begitu pula sebaliknya, jika guru memberikan teladan yang buruk maka akan berdampak negatif juga terhdap perkembangannya. Karena itu penting sekali guru memiliki kepribadian yang mantap.

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen dikemukakan bahwa kompetensi kepribadian adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”. Kompetensi ini mencakup pada kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri. Sedangkan kompetensi guru secara lebih khusus lagi adalah bersikap terbuka dan empati, berwibawa, bertanggung jawab dan mampu menilai diri pribadi.

Dalam Standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat (3) butir b dikemukakan, bahwa kompetensi kepribadian adalah kemampuan yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, serta menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

Selanjutnya Suharto (2013) mengemukakan bahwa kemampuan kepribadian guru, mencakup: 1) penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya; 2) pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru; 3) kepribadian, nilai, sikap hidup ditampilkan dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya. Jika membaca pernyataan-pernyataan di atas maka terasa beratlah mengemban tugas sebagai seorang guru.

Namun jika dilakukan dengan hati, beban itu tidak akan terasa berat. Saatnya seorang guru sadar bahwa sebelum mendidik muridnya seorang guru harus terlebih dahulu memaksa dirnya untuk membenahi dan mendidik dirinya sendiri agar mampu memiliki kompetensi kepribadian yang mantap.

Kerena guru di hadapan muridnya merupakan figur dan titik pusat dalam kegiatan pembelajaran, maka diharapkan memiliki kepribadian yang baik dalam menghadapi mereka. Baik dalam hal kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Sikap seorang guru akan membawa pengaruh positif terhadap peserta didik secara khusus dan masyarakat pada umumnya. Sebab guru yang memiliki sikap kepribadian yang baik akan menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. Jika guru bisa menjadi teladan maka nasihatnya, ucapannya, dan perintahnya ditaati, serta sikap dan perilakunya akan ditiru.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *