Thursday, April 18, 2024
ARTIKEL

Menyambut Bulan Suci Ramadan dengan Penuh Syukur dan Sukacita

 

 

Oleh, Dr. Iim Ibrohim, M.Ag

Ketua Yayasan Mutiara Embun Pagi dan Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Bandung

Disampaikan dalam khutbah/ceramah tarawih pertama bulan Ramadan 1444 H di Masjid Qudwah Jln. Anyar No. 79 Solokanjeruk Bandung

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamduillah. Alladzi jaala syahra Ramadhan. Syahrun Mubarak. Wa fihi anzalallahu quranan arabiyyan la’allaku ta;qilun. Asyhadu an la ilaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluh.

Allahumma shalli ala Muhammad,wa ala ali Muhammad. Kama sallaita ala Ibrahim. Wa ala ali Ibrahim. Wabarik ala Muhammad, wa ala ali Muhammad. Kama barakta taala Ibrahim wa ala ali Ibrahim. Fil alamina innaka hamidum majid. Amma ba’du.

Ikhwatu iman rahima Kumullah.

Bersyukur kita kepada Allah SWT. yang masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati sajian amal kebaikan, khususnya di bulan Ramadhan 1444 h ini. Amalan di bulan Ramadhan tentu memiliki keutamaan lebih daripada bulan-bulan lainnya. Allah SWT Maha Kuasa dalam memberikan kesempatan, atau tidak. Oleh karena itu, tepat kiranya jika kita bersyukur kepada Allah SWT.

Bentuk syukur yang paling mudah dan sederhana ialah mengucap hamdalah. Alhamdulillahi rabbil alamin. Bentuk kedua berupa sikap, kita mempersiapkan diri untuk sama-sama mengisi bulan Ramadhan ini dengan amal kebaikan. Dengan dipersiapkan terlebih dahulu, niscaya amalan yang akan kita lakukan dapat lebih terprogram. Harapannya, output atau produk dari ibadah kita lebih terukur. Amin

Jika merujuk pendapat para ahli manajemen, sebelum memprogramkan suatu amalan, baiknya kita melakukan evaluasi terlebih dahulu. Albert Humphrey (1960-1970) misalnya, merekomendasikan langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam mengevaluasi suatu program. Teorinya dikenal dengan Analisis SWOT
1. Strengths (Kekuatan),
2. Weaknesses (Kelemahan),
3. Opportunities (Peluang),
4. Threats (Ancaman).

Usulan terlebih dahulu melakukan suatu evaluasi, rupanya sudah lebih dahulu disyariatkan oleh Allah SWT, misalnya tercantum pada petunjuk sebagai berikut;

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (Al Hasyr; 18).

Bentuk syukur yang ketiga tentunya dengan perbuatan. Kita betul-betul mengisi bulan Ramadhan ini dengan berbagai amalan kebaikan. Kita tidak tahu, apakah tahun yang akan datang masih diberi kesempatan atau tidak oleh Allah SWT. Karenanya, anggap saja Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir, sehingga kita totalitas dalam menghambakan diri kepada Allah SWT.

Ikhwatu iman rahima kumullah.

Sama halnya dengan bentuk syukur lewat sikap, untuk hasil yang lebih maksiml, sebagai wujud dari syukur perbuatan, kita dianjurkan untuk memprogramkan amalan-amalan yang akan kita lakukan selama bulan ini. Visi, misi dan tujuan dari amalan di bulan Ramadhan sekarang ini harus jelas.

Walter Shewhart Andrew, tahun 1990an merekomendasikan Langkah-langkah yang dapat kita lakukan. Teorinya yang terkenal ialah PDCA, Plan (rencanakan), Do (lakukan), Check (evaluasi), dan Act (tidaklanjut) (PDCA). Atau teori lain ceperti Kita sama-sama merencanakan program apa saja yang akan dilakukan. Di bulan ini kita iktikadkan untuk dilakukan. Kita evaluasi, lalu tindaklanjuti. Atau dapat pula menggunakan teorinya Stuff Lebeam dan Shinkfield (2007) dengan teori CIPP (Context, Inputs, Processes, and Products), Kaufman dan Thomas (1980) model IPPO Input, Proses, Produk, dan Outcome. Jika itu dilakukan, diharapkan kita meraih hasil yang lebih maksimal. Amin

Ikhwatu iman rahima kumullah

Sebagaimana dimaklumi, tujuan utama dari ibadah puasa yang kita lakukan ialah meningkatnya ketakwaan kepada Allah SWT. hal ini sesuai dengan firman Allah SWT “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al Baqarah; 183).

Maka ada baiknya program yang akan kita susun itu selaras dengan indicator-indikator yang telah Allah SWT tunjukkan. Di antara indicator ketakwaan itu sendiri, misalnya sebagai berikut;
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Al Baqarah; 177).

Dari ayat tersebut, Allah memberikan petunjuk ciri-ciri orang yang bertakwa yaitu
1. beriman kepada Allah,
2. beriman pada hari Akhir,
3. malaikat-malaikat,
4. kitab suci,
5. nabi-nabi;
6. memberikan harta yang dicintainya kepada (kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya;
7. melaksanakan salat;
8. menunaikan zakat;
9. menepati janji apabila berjanji;
10. sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan

ayat lain menyebutkan,
“133 Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, 134. (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. 135. Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya). 136. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang mengerjakan (amal-amal saleh) (Ali Imran 133-136).

Ayat di atas memberikan petunjuk pula, dimana orang-orang yang bertakwa itu
1. selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit,
2. mampu mengendalikan kemurkaannya,
3. memaafkan (kesalahan) orang lain.
4. apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri,) mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya.
Kemudian di ayat yang lebih seringkita jumpai, Allah SWT menunjukkan pula, “2. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, 3. (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, 4. dan mereka yang beriman pada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat. 5. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (Al Baqarah 2-5).

Dari ayat tersebut, di antara ciri orang bertaakwa ialah;
1. beriman pada yang gaib,
2. menegakkan salat,
3. menginfakkan sebagian rezeki,
4. beriman pada (Al-Qur’an)
5. beriman pada kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau
6. yakin akan adanya akhirat.

Indicator-indikator ketakwaan tersebut tentu tidak mudah untuk diraih. Dengan dilakukan perencanaan program yang baik, diharapkan kita dapat meraihnya dengan maksimal.

Di bulan Ramadhan ini, setiap individu, tentu memiliki program dan targetan masing-masing. Semuanya didasarkan pada hasil evaluasi dan juga mimpi bersama di tahun ini. Kita harus yakin, manakala kita merencakan suatu kebaikan, maka Allah akan mencatatnya sebagai satu kebaikan. Untuk hasil, kita serahkan kepada Allah SWT. Laha ma kasabat, wa alaiha maktasabat. Seseorang akan memperoleh atas apa yang telah dilakukannya.

Ikhwatu iman rahima kumullah,

Sebagai penutup, mari kita kuatkan lagi keimanan kita kepada Allah SWT. Kita luruskan niat karena Allah. Kita mempersiapkan sebaik-baaiknya bekal berupa ketakwaan kepada Allah SWT. Selalu memohon doa agar bersabar dan istikomah dalam kebenaran, serta dijauhkan dari godaan syetan.

Amin ya rabbal alamin

Nashrum minallah wa fathun qarib. Wa basysyiril mukminin

Wassalamu alaikum ww

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *